Senin, 21 November 2016

Romantis Berujung Kecewa part1

Malam ini aku sulit tidur, pikiranku bercabang tanpa arah, hatiku gundah tak seperti biasanya. Kulihat jam diponsel menuju ke angka 02.48 ya Tuhan aku belum bisa tertidur juga. Apa yang bisa kulakukan Tuhan, upayaku untuk tidur pun sia-sia, aku yg biasa memilih untuk mengkhayal sebelum tidur pun malam ini enggan berlaku. Aku ingin tidur Tuhan istirahatkan aku malam ini, istirahatkan aku semenjak kejadian tadi.
20.30
Ponselku berdering, aku mendapatkan pesan singkat dari sahabat karibku :
- Jangan marah sama keadaan ya pas kamu lihat ini, aku begini karena aku gak mau kamu terus percaya sama seseorang yg salah sayang - From : killa
Killa mengirikan ku screenshoot yang berisikan pesan singkat priaku yg kini bersama wanita lain.
Aku enggan membalas pesan singkat killa, mata ku berkaca, kedua pipiku basah, seorang pria yang aku percaya kini mengecewakanku untuk pertama kalinya. Pria yg aku banggakan yg aku sanjung setinggi-tingginya kini bersama wanita lain, wanita yg pernah menggoda priaku, wanita yg pernah berkata kepada ku "aku hanya berteman dengan kekasihmu tidak lebih" ucapan terakhir Gina kepadaku. Wanita omong kosong itu, wanita jalang perebut kekasih orang. Ya tuhan pukulan pahit, tusukan timah yang kini menusuk hatiku. Pikiranku makin tak tertata, aku tak percaya Genta melakukan ini kepadaku. Genta yang selalu romantis ketika bersamaku, Genta yg selalu menyempatkan waktu luangnya untuk menemuiku dan memberi kabar kepadaku, ini tidak mungkin Tuhan, tidak mungkin. Teriakku didalam tangis sambil memeluk boneka dari Genta, boneka yang Genta berikan saat Genta memintaku untuk menjadi kekasihnya.
Tiga bulan yang lalu
Siang ini aku menyempatkan diri untuk pergi ketoko buku, membeli beberapa buku untuk keperluan dan juga referensi untuk skripsiku. Sonya Dewi Khandis itulah namaku, kini aku kuliah semester 8 Universitas Negri di Kota Jogjakarta, aku mengambil jurusan Manajemen dan Bisnis mungkin karena sedari kecil aku turut ikut menemani Bapak berbisnis. Berbisnis dengan makelar tanah, hingga sekarang Bapak punya beberapa hotel didaerah Jogjakarta. Ibu ku seorang ibu rumah tangga, dengan pekerjaan sambilannya berjualan online, padahal ibu punya butik yang kini dijadikannya gudang untuk tempat menaruh baju-baju pesanannya.
"Ibu Khandis pergi dulu ya" ucapku sambil mencium tangan lembut ibu, memberikan kecupan dipipi kanan dan pipi kiri ibu. "Loh mau kemana siang hari begini?" Ucap ibu bingung. "Piye toh bu, ibu lupa aku kan semalam sudah izin mau pergi ketoko buku" jawabku dengan senyuman. "Owalah lali ibu, yowes hati-hati dijalan, lekas pulang sebelum makan malam ya Khandisku sayang" sahut ibuku memberikan izin. "Nje bu" jawabku kemudin meninggalkan ibu dirumah. 
Sesampainya ditoko buku, aku langsung berjalan ke bagian rak yang berisikan buku-buku bisnis, memilih mana buku yang tepat yang sesuai dengan tema skripsiku. Kuperhatikan satu demi satu judul buku, aku ambil dan aku lihat sinopsis yang ada dibelakang cover buku, kutaruh lagi jika itu bukan buku yg sesuai dengan tema ku. Begitu seterusnya sampai aku tiba tak sengaja bersentuhan dengan tangan seseorang, tangan yg dari sudut lain ingin mengambil buku disebelah buku yang aku ingin ambil, sontak mata kita saling bertemu, terpelonggo kebingunggan kemudian tersenyum dan meminta maaf. "Maaf tidak sengaja" ucapan bersalah si pria. "Engga apa-apa mas" jawabku ramah.
Aku mengambil buku tersebut, kemudian kearah kasir mengantri untuk membayarnya. Aku pun tidak melihat pria tadi ke arah mana ia sekarang, dan aku pun jg lupa dengan raut wajah si pria tersebut. "Maaf mba masih ada transaksi yang belum selesai, jadi silahkan tunggu sebentar" ucap kasir cantik didepanku. Aku hanya tersenyum sambil menunggu transaksi tersebut selesai. "Maaf lama, ini bukunya, jadi berapa semuanya mba?" Ucap pria yang menurutku cukup tampan. Setelah transaksi pembayaran pria itu selesai, pria itu berbalik badan dan tanpa sengaja menjatuhkan buku dari genggamanku. Spontan aku mengucapkan "aduh gimana sih mas, jalan disana kan lega". "Maaf mba maaf" ucapnya sambil mengambil buku ku yg dijatuhkannya. "Loh kamu yg tadi kan yg gak sengaja tangan kita bersentuhan?" Tanyanya sumringah. Aku terbingung, berpikir dan mengingat-ingat kejadian tadi. "Owalah mas mas" jawabku sedikit kebingungan. "Sebagai permintaan maaf bukumu aku yg bayar" sahutnya mengambil paksa buku dari tanganku dan memberikannya kepada mba kasir. "Eh engga usah mas, cuma begitu aja masa buku saya jadi mas yg bayar" ucapku dengan nada panik. "Gak apa-apa mba, ini bukunya anak bisnis juga?" Tanya si pria dengan tangan menyodorkan buku yg sudah dibayarkannya "Terimakasih banyak mas, iya bisnis" jawabku ramah dengan tangan mengambil buku. Kita sedikit menyingkir dari kasir, membiarkan pelanggan yang lainnya dapat melakukan transaksi pembayaran. "Aku Genta" sapanya sambil memperkenalkan diri. "Khandis" ucapku memperkenalkan diri. "Skripisan juga?" Ucap genta nada menggoda. "Iya masih bab awal, Genta?" Ucapku singkat. "Menjelang sidang dengan revisian yg tak kenal lelah" jawabnya dengan muka sendu. Aku melihat wajah Genta, kasian tapi aku ingin tertawa, ucapannya begitu menggoda, begitu jenaka namun ringan. "Ketawa aja ndis, aku biasa kok diketawain" sindir Genta. "Alah apa sih kamu" jawab gandis sedikit cuek.
"Mau ngopi bareng? Disini ada cafe kopi enak loh, nyesel kalau Khandis gak nyobain!" Sahut genta bersemangat menawarkan jamuan ngopi bareng ala-ala cwo metroseksual. "Hmm bolehlah" ucapku sedikit penasaran.
Aku dan Genta berjalan menuju cafe, cafe yg bernama cafetaria yg begitu harum saat kita berjalan kearah cafe tersebut. Aroma kopi dengan beraneka rasa berayun manja, memanggil-manggil untuk segera dipesan dan dapat diminum. "Pesan Iced Caramel Macchiato 1 dengan ekstra gula, Khandis mau apa?" Pesan Genta kepada barista. " Iced White Chocolate Mocha, tapi gulanya sedikit aja" jawabku antusias.
Genta pun memberikan pesanan lengkap untuk kita berdua kepada barista, Genta juga memperkenalkan tempat duduk favoritnya kepadaku, diujung dekat dengan rak buku kecil. Kata Genta buku itu ibarat bunga, bunga kehidupan yang selalu mekar saat kita membacanya, dan layu jika kita malas membaca apalagi menyentuhnya. Aih begitu puitis pria yang baru kutemui ini. Genta duduk tanpa beban, seakan banyak bidadari yang menyambutnya dan menghidangkan ini itu untuk tuannya. Tidak buruk untuk pria yg baru kukenal beberapa menit yang lalu ditoko buku, hmm toko buku jarang sekali aku dapat bertemu pria dengan setelan pakaian yang metroseksual seperti Genta, abaikan..
Disela-sela minum aku dan Genta banyak mengobrol, entah tentang skripsian kita, tentang revisian Genta yang mungkin kedengaran lucu bagiku, candaan Genta membuatku sedikit larut dengan ceritanya. Membuatku sedikit terhibur oleh pria ini, pria yang baru kukenal, dan mungkin hari ini juga aku dapat berkata, ya Tuhan aku mulai merasakan kenyamanan oleh sesosok pria ini Genta Rancaka Putra jurusan Ilmu Administrasi Bisnis dengan berbagai coretan revisian menuju siding skripsi Universitas Swasta dikota Jogjakarta.
Genta juga memintaku untuk tukeran nomor, katanya sih biar aku tahu seluk beluk menuju skripsi, entah benar atau hanya modus belaka yang Genta lontarkan padaku. Yang pasti terimakasih Tuhan untuk sosok baru yg hari ini engkau turunkan kepadaku.
Seminggu setelah bertemu Genta
Setiap hari Genta menyediakan waktu luangnya, memberitahu ku jika ia semakin dekat menuju sidang skripnya, meskipun masih dengan coretan revisi dari Dosen Pembimbingnya, itulah yang selalu Genta lontarkan kepadaku, membuatku semakin semangat merampungkan bab demi bab seakan-akan aku ingin menyusul Genta, ah tidak aku hanya berandai saja.
Jam ponselku menujukkan keangka 01.12 tanpa sadar aku mencari beberapa jurnal hingga larut malam, aku tak sadar saking asiknya membaca jurnal, mengambil metode hingga mencari kekurangan dan kelebihan dari jurnal tersebut. Genta menelponku, aku sontak  bergegas mengangkatnya dan membiarkan laptopku tetap dalam keadaan menyala.
Genta              : “Hallo Kandhis udah tidur ya? Maaf kalau aku ganggu kamu”
Khandis           : “Hai, aku belum tidur, tumben tengah malam begini nelpon aku”
Genta              : “Aih kamu juga tumben jam segini belum tidur, lagi apa memangnya?”
Khandis           : “Memikirkan masa depanku yang belum rampung” sambil tertawa
Genta              : “Masa depan? Kkk, bisakah kita bertemu besok?”
Khandis           : “Besok.. hmm akan ku usahakan”
Genta              : “Baiklah, cepat tidur wanita sepertimu tidak pantas begadang selarut ini”
Khandis           : “Siap bos”
Kami berdua pun menutup telpon secara bersamaan, tak ada obrolan yang begitu serius diantara kita, tak ada kata apakah nanti kita akan lebih dari teman atau apalah, karena kita hanya dipertemukan dengan tidak sengaja, ditoko buku dalam kepenatan aku dan Genta mencari dan menetukan masa depan lewat jalur skripsi. Karena aku dan Genta hanyalah mahasiswa dan mahasiswi yang mengejar ilmu dan gelar yang bermanfaat untuk nantinya didalam pekerjaan kita nanti. Aku pun bergegas menyelesaikan penulisanku, kemudian mematikan laptopku, dan berharap besok ada hal indah yang terjadi dengan aku dan Genta.
Sepertinya aku mulai menaruh harapan lebih kepada Genta  Ya Tuhan, meskipun nantinya aku tahu aku yang akan sakit bila harapanku jatuh dan sia-sia, aku yang akan sedih bila semua ini tak seperti yang aku harapkan, aku yang berandai-andai dalam ketidakpastian pun akhirnya terlarut dalam tidur.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar