Malam
ini aku sulit tidur, pikiranku bercabang tanpa arah, hatiku gundah tak seperti
biasanya. Kulihat jam diponsel menuju ke angka 02.48 ya Tuhan aku belum bisa
tertidur juga. Apa yang bisa kulakukan Tuhan, upayaku untuk tidur pun sia-sia,
aku yg biasa memilih untuk mengkhayal sebelum tidur pun malam ini enggan
berlaku. Aku ingin tidur Tuhan istirahatkan aku malam ini, istirahatkan aku
semenjak kejadian tadi.
20.30
Ponselku
berdering, aku mendapatkan pesan singkat dari sahabat karibku :
- Jangan
marah sama keadaan ya pas kamu lihat ini, aku begini karena aku gak mau kamu
terus percaya sama seseorang yg salah sayang - From : killa
Killa
mengirikan ku screenshoot yang berisikan pesan singkat priaku yg kini bersama
wanita lain.
Aku
enggan membalas pesan singkat killa, mata ku berkaca, kedua pipiku basah,
seorang pria yang aku percaya kini mengecewakanku untuk pertama kalinya. Pria
yg aku banggakan yg aku sanjung setinggi-tingginya kini bersama wanita lain,
wanita yg pernah menggoda priaku, wanita yg pernah berkata kepada ku "aku
hanya berteman dengan kekasihmu tidak lebih" ucapan terakhir Gina
kepadaku. Wanita omong kosong itu, wanita jalang perebut kekasih orang. Ya
tuhan pukulan pahit, tusukan timah yang kini menusuk hatiku. Pikiranku makin
tak tertata, aku tak percaya Genta melakukan ini kepadaku. Genta yang selalu
romantis ketika bersamaku, Genta yg selalu menyempatkan waktu luangnya untuk
menemuiku dan memberi kabar kepadaku, ini tidak mungkin Tuhan, tidak mungkin.
Teriakku didalam tangis sambil memeluk boneka dari Genta, boneka yang Genta
berikan saat Genta memintaku untuk menjadi kekasihnya.
Tiga bulan yang lalu
Siang
ini aku menyempatkan diri untuk pergi ketoko buku, membeli beberapa buku untuk
keperluan dan juga referensi untuk skripsiku. Sonya Dewi Khandis itulah namaku,
kini aku kuliah semester 8 Universitas Negri di Kota Jogjakarta, aku mengambil
jurusan Manajemen dan Bisnis mungkin karena sedari kecil aku turut ikut menemani
Bapak berbisnis. Berbisnis dengan makelar tanah, hingga sekarang Bapak punya
beberapa hotel didaerah Jogjakarta. Ibu ku seorang ibu rumah tangga, dengan
pekerjaan sambilannya berjualan online, padahal ibu punya butik yang kini
dijadikannya gudang untuk tempat menaruh baju-baju pesanannya.
"Ibu
Khandis pergi dulu ya" ucapku sambil mencium tangan lembut ibu, memberikan
kecupan dipipi kanan dan pipi kiri ibu. "Loh mau kemana siang hari
begini?" Ucap ibu bingung. "Piye toh bu, ibu lupa aku kan semalam
sudah izin mau pergi ketoko buku" jawabku dengan senyuman. "Owalah
lali ibu, yowes hati-hati dijalan, lekas pulang sebelum makan malam ya Khandisku
sayang" sahut ibuku memberikan izin. "Nje bu" jawabku kemudin
meninggalkan ibu dirumah.
Sesampainya
ditoko buku, aku langsung berjalan ke bagian rak yang berisikan buku-buku bisnis,
memilih mana buku yang tepat yang sesuai dengan tema skripsiku. Kuperhatikan
satu demi satu judul buku, aku ambil dan aku lihat sinopsis yang ada dibelakang
cover buku, kutaruh lagi jika itu bukan buku yg sesuai dengan tema ku. Begitu
seterusnya sampai aku tiba tak sengaja bersentuhan dengan tangan seseorang,
tangan yg dari sudut lain ingin mengambil buku disebelah buku yang aku ingin
ambil, sontak mata kita saling bertemu, terpelonggo kebingunggan kemudian
tersenyum dan meminta maaf. "Maaf tidak sengaja" ucapan bersalah si
pria. "Engga apa-apa mas" jawabku ramah.
Aku
mengambil buku tersebut, kemudian kearah kasir mengantri untuk membayarnya. Aku
pun tidak melihat pria tadi ke arah mana ia sekarang, dan aku pun jg lupa
dengan raut wajah si pria tersebut. "Maaf mba masih ada transaksi yang
belum selesai, jadi silahkan tunggu sebentar" ucap kasir cantik didepanku.
Aku hanya tersenyum sambil menunggu transaksi tersebut selesai. "Maaf
lama, ini bukunya, jadi berapa semuanya mba?" Ucap pria yang menurutku
cukup tampan. Setelah transaksi pembayaran pria itu selesai, pria itu berbalik
badan dan tanpa sengaja menjatuhkan buku dari genggamanku. Spontan aku
mengucapkan "aduh gimana sih mas, jalan disana kan lega". "Maaf
mba maaf" ucapnya sambil mengambil buku ku yg dijatuhkannya. "Loh
kamu yg tadi kan yg gak sengaja tangan kita bersentuhan?" Tanyanya
sumringah. Aku terbingung, berpikir dan mengingat-ingat kejadian tadi.
"Owalah mas mas" jawabku sedikit kebingungan. "Sebagai
permintaan maaf bukumu aku yg bayar" sahutnya mengambil paksa buku dari
tanganku dan memberikannya kepada mba kasir. "Eh engga usah mas, cuma
begitu aja masa buku saya jadi mas yg bayar" ucapku dengan nada panik.
"Gak apa-apa mba, ini bukunya anak bisnis juga?" Tanya si pria dengan
tangan menyodorkan buku yg sudah dibayarkannya "Terimakasih banyak mas,
iya bisnis" jawabku ramah dengan tangan mengambil buku. Kita sedikit
menyingkir dari kasir, membiarkan pelanggan yang lainnya dapat melakukan
transaksi pembayaran. "Aku Genta" sapanya sambil memperkenalkan diri.
"Khandis" ucapku memperkenalkan diri. "Skripisan juga?"
Ucap genta nada menggoda. "Iya masih bab awal, Genta?" Ucapku
singkat. "Menjelang sidang dengan revisian yg tak kenal lelah" jawabnya
dengan muka sendu. Aku melihat wajah Genta, kasian tapi aku ingin tertawa,
ucapannya begitu menggoda, begitu jenaka namun ringan. "Ketawa aja ndis,
aku biasa kok diketawain" sindir Genta. "Alah apa sih kamu"
jawab gandis sedikit cuek.
"Mau
ngopi bareng? Disini ada cafe kopi enak loh, nyesel kalau Khandis gak
nyobain!" Sahut genta bersemangat menawarkan jamuan ngopi bareng ala-ala
cwo metroseksual. "Hmm bolehlah" ucapku sedikit penasaran.
Aku
dan Genta berjalan menuju cafe, cafe yg bernama cafetaria yg begitu harum saat
kita berjalan kearah cafe tersebut. Aroma kopi dengan beraneka rasa berayun
manja, memanggil-manggil untuk segera dipesan dan dapat diminum. "Pesan Iced
Caramel Macchiato 1 dengan ekstra gula, Khandis mau apa?" Pesan Genta
kepada barista. " Iced White Chocolate
Mocha, tapi gulanya sedikit aja" jawabku antusias.
Genta
pun memberikan pesanan lengkap untuk kita berdua kepada barista, Genta juga
memperkenalkan tempat duduk favoritnya kepadaku, diujung dekat dengan rak buku
kecil. Kata Genta buku itu ibarat bunga, bunga kehidupan yang selalu mekar saat
kita membacanya, dan layu jika kita malas membaca apalagi menyentuhnya. Aih
begitu puitis pria yang baru kutemui ini. Genta duduk tanpa beban, seakan
banyak bidadari yang menyambutnya dan menghidangkan ini itu untuk tuannya.
Tidak buruk untuk pria yg baru kukenal beberapa menit yang lalu ditoko buku,
hmm toko buku jarang sekali aku dapat bertemu pria dengan setelan pakaian yang
metroseksual seperti Genta, abaikan..
Disela-sela
minum aku dan Genta banyak mengobrol, entah tentang skripsian kita, tentang
revisian Genta yang mungkin kedengaran lucu bagiku, candaan Genta membuatku
sedikit larut dengan ceritanya. Membuatku sedikit terhibur oleh pria ini, pria
yang baru kukenal, dan mungkin hari ini juga aku dapat berkata, ya Tuhan aku
mulai merasakan kenyamanan oleh sesosok pria ini Genta Rancaka Putra jurusan
Ilmu Administrasi Bisnis dengan berbagai coretan revisian menuju siding skripsi
Universitas Swasta dikota Jogjakarta.
Genta
juga memintaku untuk tukeran nomor, katanya sih biar aku tahu seluk beluk
menuju skripsi, entah benar atau hanya modus belaka yang Genta lontarkan
padaku. Yang pasti terimakasih Tuhan untuk sosok baru yg hari ini engkau
turunkan kepadaku.
Seminggu setelah bertemu Genta
Setiap
hari Genta menyediakan waktu luangnya, memberitahu ku jika ia semakin dekat
menuju sidang skripnya, meskipun masih dengan coretan revisi dari Dosen
Pembimbingnya, itulah yang selalu Genta lontarkan kepadaku, membuatku semakin
semangat merampungkan bab demi bab seakan-akan aku ingin menyusul Genta, ah
tidak aku hanya berandai saja.
Jam
ponselku menujukkan keangka 01.12 tanpa sadar aku mencari beberapa jurnal
hingga larut malam, aku tak sadar saking asiknya membaca jurnal, mengambil
metode hingga mencari kekurangan dan kelebihan dari jurnal tersebut. Genta
menelponku, aku sontak bergegas
mengangkatnya dan membiarkan laptopku tetap dalam keadaan menyala.
Genta : “Hallo Kandhis udah tidur ya?
Maaf kalau aku ganggu kamu”
Khandis : “Hai, aku belum tidur, tumben tengah
malam begini nelpon aku”
Genta : “Aih kamu juga tumben jam segini
belum tidur, lagi apa memangnya?”
Khandis : “Memikirkan masa depanku yang belum
rampung” sambil tertawa
Genta : “Masa depan? Kkk, bisakah kita
bertemu besok?”
Khandis : “Besok.. hmm akan ku usahakan”
Genta : “Baiklah, cepat tidur wanita
sepertimu tidak pantas begadang selarut ini”
Khandis : “Siap bos”
Kami
berdua pun menutup telpon secara bersamaan, tak ada obrolan yang begitu serius
diantara kita, tak ada kata apakah nanti kita akan lebih dari teman atau
apalah, karena kita hanya dipertemukan dengan tidak sengaja, ditoko buku dalam
kepenatan aku dan Genta mencari dan menetukan masa depan lewat jalur skripsi.
Karena aku dan Genta hanyalah mahasiswa dan mahasiswi yang mengejar ilmu dan
gelar yang bermanfaat untuk nantinya didalam pekerjaan kita nanti. Aku pun
bergegas menyelesaikan penulisanku, kemudian mematikan laptopku, dan berharap
besok ada hal indah yang terjadi dengan aku dan Genta.
Sepertinya
aku mulai menaruh harapan lebih kepada Genta
Ya Tuhan, meskipun nantinya aku tahu aku yang akan sakit bila harapanku
jatuh dan sia-sia, aku yang akan sedih bila semua ini tak seperti yang aku
harapkan, aku yang berandai-andai dalam ketidakpastian pun akhirnya terlarut
dalam tidur.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar