18 Desember 2015
Sore ini Genta menjemputku didepan kampus,
dengan mobil Honda jazz berwarna biru, mobil kebanggaannya yang ia beli dengan
uangnya sendiri, uang hasil ngamen dari cafe ke cafe itu ucapan merendah Genta,
sosok pria yang belum ada sebulan aku kenal.
“Hei masuklah, aku bukan supir yang akan
membukakan pintu untukmu” ucap Genta menggodaku.
“Aih kau ini, mengapa semakin kesini kamu
menjadi begitu menyebalkan” sahutku sambil masuk kedalam mobil.
Genta hanya tersenyum, lalu melajukan mobilnya
hingga kita sampai disuatu tempat, Genta memarkirkan mobilnya tepat diujung, ya
tempat favoritnya adalah selalu diujung. Genta bergegas turun dari mobil,
meninggalkanku yang sedikit lebih lama keluar mobil darinya. Mungkin ini tempat
asing menurutku, tapi Genta mengajakku kesuatu restoran yang menyediakan
layanan diatas atap terbuka seperti menyatu dengan alam. “Ayolah Kandhis aku
sudah lapar!” sahut Genta sedikit kesal”.
Aku sedikit berlari kecil, entahlah aku tidak
mengerti mengapa Genta sedikit berbeda dari Genta yang ku kenal tadi malam, yang
memintaku menyediakan waktu bersamanya. “Aku menuju lift, lift yang masih Genta
tunggu agar aku dapat ikut masuk bersamanya. Aku melihat raut wajahnya kesal,
entah oleh karena gerakku yang sedikit lambat atau ada hal lain yang melintas
dipikirannya. Genta memesan kursi dan meja tepat ditengah, aku merasakan tempat
ini seperti surga jika malam hari, bukan seperti restoran. Aku merasakan Genta
menyiapkan semua ini untukku, tapi aku tidak boleh berbesar kepala, aku tahu
Genta itu romantis, Genta itu anak band, Genta itu dikelilingi wanita-wanita
cantik, yang mungkin lebih cantik dariku, lebih pintar dariku, lebih high class
seperti Genta. Meja dan kursi seperti yang ada ditaman, ini menurutku restoran
unik yang pernah aku temui. Pelayan menghidangkan makanan, aku pun enggan
mengerti padahal aku belum memesan makanan, apakah ini semua yang Genta
siapkan, untuk apa Genta seperti, apa mungkin Genta menaruh hati seperti aku
yang setengah hati berharap kepadanya. Omong kosong Kandhis itu tidak mungkin
sayang, sadarlah kamu hanya wanita sederhana, mungkin jauh dari tipe ideal
wanita yang Genta suka. “Hei mengapa melamun” sapa Genta membuyarkan lamunanku.
Aku pun tersenyum. “Makanlah, temaniku untuk menghabiskan semua ini” ucap
Genta, dan aku hanya mengganggukan kepala tanda mengerti dari setiap ucapannya.
Aku dan Genta makan bersama, dengan langit
yang mulai memerah menandakan senja, kemudian berganti menjadi hitam yang
menandakan malam, bulan dan bintang mulai muncul secara perlahan, ini indah,
lebih indah dari sebuah pertemanan ucapku dalam hati. Kami menghabiskan makanan
tanpa ada pembicaraan, karena Genta tidak suka dalam keadaan makan tapi malah
berbicara, itu sama saja mengurangi nafsu makan. Banyak perkataan ditelpon dan
ungkapan dipesan singkat yang Genta lontarkan kepadaku, dan semuanya mungkin
aku dapat mengingatnya. Entahlah mungkin aku dibius seorang Genta Rancaka
Putra, pria asli Yogyakarta.
Kami makan dengan duduk bersebelahan bukan
berhadapan, dengan posisi melihat langit dan rumah-rumah warga, serta
bangunan-bangunan cukup megah yang ada dikota Yogjakarta. “Khandis, boleh aku
berbaring dipangkuanmu, aku ingin kepalaku berbaring dipahamu, aku ingin
melepaskan penatku sejenak” ucap Genta pelan. “Iya” jawabku singkat dengan penuh
tanda tanya, ada apa dengan Genta, Genta yang aku kenal tidak selemah ini,
tidak serapuh ini, tidak semurung dan sekaku ini. Ini bukan Gentaku.
Genta tertidur pulas didalam pangkuanku,
tanganku yang tadinya diam kaku, kini mencoba mengelus rambut hitam Genta yang
sedikit gondrong. Aku mengelus perlahan demi perlahan rambut Genta berusaha
agar elusanku tidak dapat membangunkannya. Genta membuka matanya perlahan,
hanya 15 menit berlangsung Genta tertidur, Genta tersenyum sambil berkata
terimakasih padaku.
“Khandis terimakasih” ucap Gentas sedikit
bersemangat.
“Kamu tuh kenapa? Coba cerita, kali aja aku
bisa jadi tempat keluh kesahnya kamu” tanyaku sedikit cemas.
“Aku baik-baik saja, hanya lelah dengan
rutinitas, dan aku beruntung punya kamu Khandis” ucap Genta kemudian terbangun.
Aku hanya diam mengartikan setiap kata demi kata yang Genta lontarkan, ada apa
kamu Genta, mengapa kamu seperti ini, tanyaku dalam hati.
“Pulang yuk, sudah jam 9 tidak baik wanita
sepertimu pulang selarut ini, aku akan mengantarkanmu pulang Sonya Dewi
Khandis” ucap Genta dengan penuh senyum ramah.
“Ah bukankah kamu lelah, sebaiknya aku naik
taxi saja, sebaiknya kamu pulang dan tidak perlu menghawatirkanku” pintaku
“Aih wanita mungil ini, kau harus pulang
denganku Sonya Dewi Khandis, sebab Genta Rancaka Putra yang membawamu kesini,
jadi aku pun yang akan mengantarkanmu untuk pulang kerumahmu” ucap Genta
meninggalkan uang dimeja makan, lalu menarik tanganku dan bergegas pulang.
Ini kali pertamaku makan malam dengan seorang
pria, ini kali pertamaku Genta memanggilku dengan nama lengkapku, ini kali
pertama Genta menarik tanganku, ada apa ini Tuhan, aku tidak mengerti ini
semua. Aku tahu Genta lebih tinggi dariku, meskipun ia kurus, tapi tetep saja
tubuhnya terlihat lebih besar dari tubuhku, dan aku begitu mungil jika
bersamanya.
24 Desember 2015
Genta update status dipathnya, dengan
kata-kata menggunakan bahasa Inggris yang begitu panjang, aku tak sengaja
melihat updatetan Genta, aku tahu inti dari kata-kata itu, melainkan seperti
lirik lagu. Kemudian seorang wanita bernama Gina Barbellaris mengcomment status
Genta, mereka berdua terlihat akrab, seperti sepasang pria dan wanita yang
berteman lama, aku akui aku sedikit cemburu, tapi apalah dayaku, aku bukan
siapa-siapa Genta, aku bukan milik Genta jadi bukan sepatutnya aku cemburu atas
kehadiran Gina.
25 Desember 2015
Aku kembali bertemu dengan Genta, tapi Genta
tidak menjemputku dikampus melainkan Genta datang kerumahku, meminta izin
kepada Ibu dan Bapak untuk mengajakku kesebuah tempat, lagi-lagi aku tidak tahu
akan dibawa kemana oleh Genta. Aku duduk manis dimobil, melihat jalanan malam
kota Yogjakarta, aku juga tidak tahu mengapa Genta mengajakku jalan dimalam
hari seperti ini.
“Kita sampai” ucap Genta.
“Cafe ice cream?” jawabku sedikit girang.
“Iya, aku kan pernah memberitahumu bahwa aku
punya beberapa cafe ice cream yang harus kamu cicipi Khandis, duduklah disana,
aku akan memesannya” pinta Genta kembali lagi Genta menyuruhku duduk ditempat
yang berada diujung cafe, dekat dengan lukisan-lukisan kanvas dari mulai
lukisan abstrak sampai lukisan bertemakan ice cream dan music ada pada
dinding-dinding cafe ini.
“Pesanan untukmu datang Sonya Dewi Khandis”
ucap genta sambil membawa semangkok ice cream dengan beragam topping diatasnya,
membuatku tergiur untuk mencicipinya.
“Terimakasih Genta Rancaka Putra” jawabku
penuh goda.
Kami makan semangkuk ice cream berdua, dengan
dua sendok yang berbeda, aku begitu lahap memakan ice cream strawberry vanilla
ini, dan Genta begitu terkesima sambil menggelengkan kepala melihat aku memakan
ice creamnya.
“Seperti bocah saja kamu ini” Genta terwata
cekikikan, aku pun tidak memperdulikan Genta yang menertawaiku, aku melahap
habis ice cream yang ada dimangkuk, hingga pada akhirnya aku terpelonggo polos
menatap Genta yang mengelap sisa ice cream dipinggir bibirku. Genta tersenyu
tampan sekali tidak seperti biasanya.
“Hmm tunggu disini dan jangan kemana-mana”
pinta Genta tegas. Aku pun tidak tahu apa yang akan Genta lakukan. Dan ternyata
Genta mengambil sebuah gitar yang sudah ia siapkan dicafe, Genta memangku
gitarnya, kembali duduk sambil tersenyum. “Kamu mau apa? Ngamen didepanku?”
godaku sambil tertawa pelan. Genta pun memetikkan gitar memainkannya sambil
menyanyikan lagu Willamette Stone yang berjudul Today. Aku terhanyut dengan
lirik lagunya, petikkan dan suara Genta yang saling beradu melantun menjadi
satu, hatiku dibuat tenang olehnya, entah apa yang Genta pikirkan kenapa mesti
aku orangnya? Kenapa Tuhan membuat aku menaruh banyak harap kepada Genta,
kenapa?
Genta mengakhiri lagunya, Genta kembali
tersenyum, senyum yang membuat ia semakin tampan sebagai seorang pria, meskipun
tubuh Genta kurus dan tidak berisi.
“Gimana suka?” tanya Genta.
“Iya suka ice creamnya enak” jawabku polos.
“Aih bukan itu tapi yang aku lakukan barusan?”
tanya Genta sekali lagi.
“Iya aku suka ice creamnya, aku suka cara kamu
memainkan gitar dan menyanyikan lagu Willamatte Stone, terimakasih Genta”
jawabku dengan basa-basi.
Genta mencubit pipi kananku gemas, lalu
mencubit hidungku sedikit lebih kencang, meninggalkan bekas merah dihidungku.
“Yakkk Genta tiada ampun!” ucap ku dengan nada kesal. Genta berlari memasuki
mobil dan aku pun mau tidak mau berlari dibelakangnya kemudian memasuki mobil
dan kita berdua pulang.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar