Senin, 21 November 2016

Romantis Berujung Kecewa part 2

18 Desember 2015
Sore ini Genta menjemputku didepan kampus, dengan mobil Honda jazz berwarna biru, mobil kebanggaannya yang ia beli dengan uangnya sendiri, uang hasil ngamen dari cafe ke cafe itu ucapan merendah Genta, sosok pria yang belum ada sebulan aku kenal.
“Hei masuklah, aku bukan supir yang akan membukakan pintu untukmu” ucap Genta menggodaku.
“Aih kau ini, mengapa semakin kesini kamu menjadi begitu menyebalkan” sahutku sambil masuk kedalam mobil.

Genta hanya tersenyum, lalu melajukan mobilnya hingga kita sampai disuatu tempat, Genta memarkirkan mobilnya tepat diujung, ya tempat favoritnya adalah selalu diujung. Genta bergegas turun dari mobil, meninggalkanku yang sedikit lebih lama keluar mobil darinya. Mungkin ini tempat asing menurutku, tapi Genta mengajakku kesuatu restoran yang menyediakan layanan diatas atap terbuka seperti menyatu dengan alam. “Ayolah Kandhis aku sudah lapar!” sahut Genta sedikit kesal”.
Aku sedikit berlari kecil, entahlah aku tidak mengerti mengapa Genta sedikit berbeda dari Genta yang ku kenal tadi malam, yang memintaku menyediakan waktu bersamanya. “Aku menuju lift, lift yang masih Genta tunggu agar aku dapat ikut masuk bersamanya. Aku melihat raut wajahnya kesal, entah oleh karena gerakku yang sedikit lambat atau ada hal lain yang melintas dipikirannya. Genta memesan kursi dan meja tepat ditengah, aku merasakan tempat ini seperti surga jika malam hari, bukan seperti restoran. Aku merasakan Genta menyiapkan semua ini untukku, tapi aku tidak boleh berbesar kepala, aku tahu Genta itu romantis, Genta itu anak band, Genta itu dikelilingi wanita-wanita cantik, yang mungkin lebih cantik dariku, lebih pintar dariku, lebih high class seperti Genta. Meja dan kursi seperti yang ada ditaman, ini menurutku restoran unik yang pernah aku temui. Pelayan menghidangkan makanan, aku pun enggan mengerti padahal aku belum memesan makanan, apakah ini semua yang Genta siapkan, untuk apa Genta seperti, apa mungkin Genta menaruh hati seperti aku yang setengah hati berharap kepadanya. Omong kosong Kandhis itu tidak mungkin sayang, sadarlah kamu hanya wanita sederhana, mungkin jauh dari tipe ideal wanita yang Genta suka. “Hei mengapa melamun” sapa Genta membuyarkan lamunanku. Aku pun tersenyum. “Makanlah, temaniku untuk menghabiskan semua ini” ucap Genta, dan aku hanya mengganggukan kepala tanda mengerti dari setiap ucapannya.
Aku dan Genta makan bersama, dengan langit yang mulai memerah menandakan senja, kemudian berganti menjadi hitam yang menandakan malam, bulan dan bintang mulai muncul secara perlahan, ini indah, lebih indah dari sebuah pertemanan ucapku dalam hati. Kami menghabiskan makanan tanpa ada pembicaraan, karena Genta tidak suka dalam keadaan makan tapi malah berbicara, itu sama saja mengurangi nafsu makan. Banyak perkataan ditelpon dan ungkapan dipesan singkat yang Genta lontarkan kepadaku, dan semuanya mungkin aku dapat mengingatnya. Entahlah mungkin aku dibius seorang Genta Rancaka Putra, pria asli Yogyakarta.
Kami makan dengan duduk bersebelahan bukan berhadapan, dengan posisi melihat langit dan rumah-rumah warga, serta bangunan-bangunan cukup megah yang ada dikota Yogjakarta. “Khandis, boleh aku berbaring dipangkuanmu, aku ingin kepalaku berbaring dipahamu, aku ingin melepaskan penatku sejenak” ucap Genta pelan. “Iya” jawabku singkat dengan penuh tanda tanya, ada apa dengan Genta, Genta yang aku kenal tidak selemah ini, tidak serapuh ini, tidak semurung dan sekaku ini. Ini bukan Gentaku.
Genta tertidur pulas didalam pangkuanku, tanganku yang tadinya diam kaku, kini mencoba mengelus rambut hitam Genta yang sedikit gondrong. Aku mengelus perlahan demi perlahan rambut Genta berusaha agar elusanku tidak dapat membangunkannya. Genta membuka matanya perlahan, hanya 15 menit berlangsung Genta tertidur, Genta tersenyum sambil berkata terimakasih padaku.
“Khandis terimakasih” ucap Gentas sedikit bersemangat.
“Kamu tuh kenapa? Coba cerita, kali aja aku bisa jadi tempat keluh kesahnya kamu” tanyaku sedikit cemas.
“Aku baik-baik saja, hanya lelah dengan rutinitas, dan aku beruntung punya kamu Khandis” ucap Genta kemudian terbangun. Aku hanya diam mengartikan setiap kata demi kata yang Genta lontarkan, ada apa kamu Genta, mengapa kamu seperti ini, tanyaku dalam hati.
“Pulang yuk, sudah jam 9 tidak baik wanita sepertimu pulang selarut ini, aku akan mengantarkanmu pulang Sonya Dewi Khandis” ucap Genta dengan penuh senyum ramah.
“Ah bukankah kamu lelah, sebaiknya aku naik taxi saja, sebaiknya kamu pulang dan tidak perlu menghawatirkanku” pintaku
“Aih wanita mungil ini, kau harus pulang denganku Sonya Dewi Khandis, sebab Genta Rancaka Putra yang membawamu kesini, jadi aku pun yang akan mengantarkanmu untuk pulang kerumahmu” ucap Genta meninggalkan uang dimeja makan, lalu menarik tanganku dan bergegas pulang.
Ini kali pertamaku makan malam dengan seorang pria, ini kali pertamaku Genta memanggilku dengan nama lengkapku, ini kali pertama Genta menarik tanganku, ada apa ini Tuhan, aku tidak mengerti ini semua. Aku tahu Genta lebih tinggi dariku, meskipun ia kurus, tapi tetep saja tubuhnya terlihat lebih besar dari tubuhku, dan aku begitu mungil jika bersamanya.

24 Desember 2015
Genta update status dipathnya, dengan kata-kata menggunakan bahasa Inggris yang begitu panjang, aku tak sengaja melihat updatetan Genta, aku tahu inti dari kata-kata itu, melainkan seperti lirik lagu. Kemudian seorang wanita bernama Gina Barbellaris mengcomment status Genta, mereka berdua terlihat akrab, seperti sepasang pria dan wanita yang berteman lama, aku akui aku sedikit cemburu, tapi apalah dayaku, aku bukan siapa-siapa Genta, aku bukan milik Genta jadi bukan sepatutnya aku cemburu atas kehadiran Gina.

25 Desember 2015
Aku kembali bertemu dengan Genta, tapi Genta tidak menjemputku dikampus melainkan Genta datang kerumahku, meminta izin kepada Ibu dan Bapak untuk mengajakku kesebuah tempat, lagi-lagi aku tidak tahu akan dibawa kemana oleh Genta. Aku duduk manis dimobil, melihat jalanan malam kota Yogjakarta, aku juga tidak tahu mengapa Genta mengajakku jalan dimalam hari seperti ini.
“Kita sampai” ucap Genta.
“Cafe ice cream?” jawabku sedikit girang.
“Iya, aku kan pernah memberitahumu bahwa aku punya beberapa cafe ice cream yang harus kamu cicipi Khandis, duduklah disana, aku akan memesannya” pinta Genta kembali lagi Genta menyuruhku duduk ditempat yang berada diujung cafe, dekat dengan lukisan-lukisan kanvas dari mulai lukisan abstrak sampai lukisan bertemakan ice cream dan music ada pada dinding-dinding cafe ini.
“Pesanan untukmu datang Sonya Dewi Khandis” ucap genta sambil membawa semangkok ice cream dengan beragam topping diatasnya, membuatku tergiur untuk mencicipinya.
“Terimakasih Genta Rancaka Putra” jawabku penuh goda.
Kami makan semangkuk ice cream berdua, dengan dua sendok yang berbeda, aku begitu lahap memakan ice cream strawberry vanilla ini, dan Genta begitu terkesima sambil menggelengkan kepala melihat aku memakan ice creamnya.
“Seperti bocah saja kamu ini” Genta terwata cekikikan, aku pun tidak memperdulikan Genta yang menertawaiku, aku melahap habis ice cream yang ada dimangkuk, hingga pada akhirnya aku terpelonggo polos menatap Genta yang mengelap sisa ice cream dipinggir bibirku. Genta tersenyu tampan sekali tidak seperti biasanya.
“Hmm tunggu disini dan jangan kemana-mana” pinta Genta tegas. Aku pun tidak tahu apa yang akan Genta lakukan. Dan ternyata Genta mengambil sebuah gitar yang sudah ia siapkan dicafe, Genta memangku gitarnya, kembali duduk sambil tersenyum. “Kamu mau apa? Ngamen didepanku?” godaku sambil tertawa pelan. Genta pun memetikkan gitar memainkannya sambil menyanyikan lagu Willamette Stone yang berjudul Today. Aku terhanyut dengan lirik lagunya, petikkan dan suara Genta yang saling beradu melantun menjadi satu, hatiku dibuat tenang olehnya, entah apa yang Genta pikirkan kenapa mesti aku orangnya? Kenapa Tuhan membuat aku menaruh banyak harap kepada Genta, kenapa?
Genta mengakhiri lagunya, Genta kembali tersenyum, senyum yang membuat ia semakin tampan sebagai seorang pria, meskipun tubuh Genta kurus dan tidak berisi.
“Gimana suka?” tanya Genta.
“Iya suka ice creamnya enak” jawabku polos.
“Aih bukan itu tapi yang aku lakukan barusan?” tanya Genta sekali lagi.
“Iya aku suka ice creamnya, aku suka cara kamu memainkan gitar dan menyanyikan lagu Willamatte Stone, terimakasih Genta” jawabku dengan basa-basi.

Genta mencubit pipi kananku gemas, lalu mencubit hidungku sedikit lebih kencang, meninggalkan bekas merah dihidungku. “Yakkk Genta tiada ampun!” ucap ku dengan nada kesal. Genta berlari memasuki mobil dan aku pun mau tidak mau berlari dibelakangnya kemudian memasuki mobil dan kita berdua pulang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar