Melangkah bahagia ditengah ketidaktahuan orang lain.
Dan berpura-pura diam, bahkan tidak tahu hal-hal yang sebenarnya kita ketahui.
Diam-diam menyimpan rasa yang terkadang diabaikan olehnya.
Dan diam-diam memperhatikan, dan sering kali terjebak karna dia melihat tingkah kita.
Didepan orang lain kita tak pernah akrab, tapi dibelakang orang lain kita sempat akrab bukan?
Mungkin itu sebabnya, kamu tak ingin orang lain tahu tentang keberadaan kita?Bahkan setelah orang lain tahu tentang kita, kamu sering kali berperilaku kasar, menjauh dan menjauh seakan-akan ingin pergi meninggalkan aku.
Dan disaat aku mencoba mendekat lagi, dengan mudahnya kamu pasang tembok pembatas, yang ingin memisahkan aku dan kamu lagi.
Memang kamu pernah sadar bahwa aku jatuh bangun berkorban hanya untuk kita akrab lagi?
Tidak kan, karna kamu cuma bisa pasang tembok pembatas yang cukup kokoh untuk aku robohkan!
Dulu aku sempat lelah, dengan cara kamu yang sering kali diam, dan tak pernah perduli sama aku lagi.
Aku lelah berada dilingkaran itu, aku lelah sama kamu, berada diruangan yang sama tapi kamu enggan melirik ku, menyapa ku atau bahkan memangnya kamu pernah anggap aku ada setelah kejadian itu?
Dan nyatanya tidak!
Memangnya kamu pernah sadar, bahwa aku sering menangisimu ditengah gelap?
Memangnya kamu sadar, karna aku ngerasa bersalah saat kejadian itu terbongkar?
Memangnya kamu sadar???
Tidak kan! karna kamu cuma pandang aku rendah, kamu cuma pandang aku bahwa aku hanyalah mainanmu bukan?
Mungkin aku tak pernah berfikir itu, tapi nyatanya sikapmulah yang menyadarkan aku tentang itu semua.
Lantas, bolehkah kita sudahi ini sejenak dan mulai membangun keakraban kembali seperti dulu.
Dan nyatanya TUHAN mendengar doaku itu, dan TUHAN tahu bagaimana pengorbanan aku untuk tetap ingin bersama kamu, walaupun kamu pernah nyakitin aku bahkan kasar kepada ku.
Dan akhirnya kita kembali akrab. penuh canda bahkan tawa yang terkadang diselingi cacian, dan aku tidak memperdulikannya.
Mungkin terdengar bodoh, sudah dikasari, dipermainkan, dikasari, dan ditinggal bahkan disakiti tapi aku masih mau kembali bersamanya, membangun keakraban yang dulu pernah tercipta.
Dan mungkin orang lain takkan pernah mampu begini, sama seperti aku ini.
Dan kini kamu memberi aku kisah, mungkin yang membahagiakan dari kisah yang dulu kamu ciptakan.
Lebih berarti dari yang terdahulu, mungkin karna sekarang kita sudah jauh dari orang lain bukan? :)
Sudah benar-benar ada ditempat nyaman, dan orang lain tak dapat mengetahui tempat kita ya.
Beberapa bulan berlalu, memang kamu pernah datang ke tempatku, singgah sebentar dan berbincang, itu adalah saat-saat yang benar-benar indah bersama kamu.
Dan nyatanya itu dulu!
Aku tak pernah tahu siapa yang memulai ini lagi? Entah aku atau kamu!
Aku hanya bilang, teman-teman kamu menanyakan keberadaan kamu ke aku, dan aku pun menjawabnya dengan sepengetahuan aku.
Dari situ kamu mulai menjauh lagi kan?
Seakan-akan aku yang memulainya pertama kali. :(
Semenjak itu aku mencoba menghubungimu lagi, tapi kamu enggan perduli, membangun tembok batasan lagi.
Dan sebenarnya aku lelah, lelah dengan perilaku kamu yang seperti ini lagi!
Tahukah kamu, aku sering merasa bersalah tiap kali kamu menjauh.
Akan tetapi kamu tetap enggan memperdulikan aku akan hal itu.
Tak pernah putus asa, aku tetap ingin menghubungimu tapi kamu tetap kekeh seperti itu acuh dan enggan perduli.
Sampai tiba dimana aku benar-benar lelah, lelah dengan sikap kamu itu.
Tidakkah kamu sadar setiap malam aku menangis setiap kali aku mengingat kamu!
Nyatanya kamu tak pernah memperdulikan itu.
Sampai dimana aku benar-benar lenyap, aku benar-benar berada dititik jenuh dan putus asa.
Sampai dimana aku muak untuk mencoba menghubungimu lagi, dan mungkin aku kesal dan marah! ah tidak aku tak pernah bisa marah sama kamu!
Beberapa minggu kemudian, kamu menghubungiku dengan cara pintarnya kamu, kamu bisa membuat aku luluh hanya karna pesan singkat yang berisikan sebuah lirik lagu.
TUHAN aku harus bagaimana? aku lelah dengan semua ini tapi dia dengan mudahnya membawa aku kembali keduniannya. TUHAN aku lelah, lelah karna ketidaktahuan yang medalam.
Mengapa kamu dengan mudahnya menghubungiku?
Dengan cara singkatnya kamu dan aku merasa ya sudahlah , yang kemarin bukanlah apa-apa, dan sekarang aku tetap ingin bersama kamu lagi.
GILA!!! mungkin ini gila, begitu mudahnya aku memaafkan dia dan kembali kedalam dunianya.
Dan mungkin perempuan mana yang mau dan sanggup begini?
Dan itu kedengarannya bodoh sekali!
Dari kejadian itu, kamu sering kali datang mengunjungi ku, dengan canda tawa bahkan cacian mu lagi...
Dan tetap didiku tak pernah memperdulikan cacian itu. :)
Beberapa minggu kemudian, kamu sudah masuk dalam dunia kerja, dan disitu aku mulai diabaikan lagi.
Namun sempat kamu utarakan janji, yang sampai detik ini masih tersimpan manis dihati.
Semenjak kamu masuk dunia kerja, aku memaklumi kamu yang sudah enggan menghubungiku, aku tahu mungkin kamu sibuk. :)
Atau bahkan kamu lelah dengan dunia kerjamu, maka dari itu kamu lebih memilih istirahat dan enggan menghubungiku. :)
Maka dari itu, aku tetap berpikir positif dan tetap menunggu sampai tiba waktunya dimana kamu menghubungiku lagi...
Dan ketika suatu hari aku merasa ketakutan aku menghubunginya, karna aku tak tahu aku harus menghubungi siapa?
Dan kamu membalasnya dengan penuh kelembutan dan mencoba menenangkanku pada saat itu.
Dan aku sempat membicarakan janjinya, tapi apalah daya, kamu membuat aku diam tak berdaya disaat kamu berkata, memangnya bisa keluar malam?
Terdiam, dan aku hanya bisa terdiam, sampai detik ini aku tak pernah diizinkan keluar malam, sementara kamu ingin mengajak aku kesuatu tempat dimalamnya Jakarta.
Beberapa bulan kita mulai terpisah karna kesibukan masing-masing dan enggan menghubungi satu sama lain.
Ketahuilah aku mulai merindukanmu, lantas sadarkah kamu?
Mungkin memang aku sempat menghubungimu, tapi aku salah, aku menghubungimu disaat yang kurang tepat, oleh karena itu aku enggan bilang jika aku merindukanmu.
Semerntara itu kehidupan mulai berganti tahun, tapi aku tetap menyimpan rindu terhadapmu, semakin rindu mungkin.
Karna aku sering menulis beberapa puisi, karna apa ya karna rinduku enggan tersampaikan.
Dan aku pun pernah berada dititik keputusasaan, aku merasa bahwa kita memang harus selesai, tetapi TUHAN masih meyuruhku untuk bersabar dan aku menepati keinginan TUHAN.
Aku masih tetap bersabar, sampai dimana satu hari menjelang hari tragedi kita, ya mungkin itu kata hati aku yang sudah lelah memendam rindu, maka dari itu aku menulisnya disalah satu jejaring sosial dan kamu menyukainya.
Dan dimana saat hari tragedi itu tiba, aku memendam duka, paginya aku kehilangan peliharaan aku yang baru beberapa hari bersamaku.
Dan aku mengungkapkannya dijejaring sosial dan kamu mengomentari itu dengan cara kasar!
Sontak aku mulai menghubunginya, karna aku cukup amat sangat kesal terhadapnya, dan itu amat sangat menyebalkan!
Pagi pun berganti jadi malam, dan kamu membalasnya, dari situ kita perbincangan kita dimulai, saat itulah saat yang aku tunggu-tunggu selama ini.
Mungkin memang kamu sedikit menghapus duka ku, akan tetapi rindu ini berlum terwujud, dan aku masih tetap ingin kamu yang dulu.
Mengapa aku ingin kamu yang dulu?
Karna aku merasa kamu berubah, entahlah aku pun tak begitu tahu tentang perubahanmu, tapi jujur aku senang kamu berubah, kamu menjadi dekat dengan TUHANmu dan kamu pun menjadi bijak.
Tapi apa boleh aku menginginkan sosok kamu yang dulu digabung dengan sosok kamu yang sekarang, tapi itu tidak mungkin terjadikan?
Karna nyatanya kamu yah diri kamu :)
Dan sampai dimana aku benar-benar merasa lelah, entahlah mungkin karna ketidakpastian dari semua ini, kamu sudah sibuk dengan duniamu dan aku mencoba beradaptasi dengan duniaku.
Ketahuilah disini aku masih merindukanmu, namun terkadang aku bimbang, mungkin karna aku lelah menghadapi ini semua.
Terkadang aku lelah menunggu ketidakpastian, meunggu yang tidak seharusnya aku tunggu, tapi aku masih terus mencoba untuk bilang aku masih mampu menunggu!
Meskipun hati ini bilang bertahan tapi raga ini bilang udahan.
Atau mungkin memang seharusnya aku sadar bahwa kamu takkan mungkin aku gapai :')


aku juga sama dengan lelaki itu,
BalasHapusmencintai tanpa di cintai.